Ketika Presiden Joe Biden mulai menjalankan perannya sebagai pemimpin Amerika Serikat, ia menghadapi banyak sekali tantangan dan peluang di panggung internasional. Dengan karir yang panjang dan cemerlang dalam kebijakan luar negeri, Presiden Biden diperlengkapi dengan baik untuk menavigasi lanskap hubungan global yang kompleks. Namun, dunia telah berubah secara signifikan sejak ia menjabat sebagai Wakil Presiden, dan ia kini harus menghadapi tantangan-tantangan baru yang terus berkembang sambil memanfaatkan peluang untuk memajukan kepentingan dan nilai-nilai AS.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi agenda kebijakan luar negeri Presiden Biden adalah memperbaiki hubungan dengan sekutu-sekutu utama yang mengalami ketegangan pada pemerintahan sebelumnya. Pendekatan “America First” yang diusung mantan Presiden Donald Trump sering kali mengasingkan mitra-mitra tradisional AS, sehingga menyebabkan perpecahan aliansi dan melemahnya kerja sama internasional. Presiden Biden telah mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki hubungan ini, dengan bergabung kembali dengan Perjanjian Iklim Paris dan Organisasi Kesehatan Dunia, serta menegaskan kembali komitmen Amerika terhadap NATO dan lembaga multilateral lainnya. Dengan membangun kembali kepercayaan dengan para sekutu dan menegaskan kembali kepemimpinan Amerika di panggung global, Presiden Biden dapat memupuk kerja sama dan solidaritas yang lebih besar dalam mengatasi tantangan-tantangan bersama seperti perubahan iklim, terorisme, dan pandemi.
Tantangan besar lainnya bagi kebijakan luar negeri Presiden Biden adalah mengelola hubungan dengan pesaing strategis seperti Tiongkok dan Rusia. Kedua negara menjadi lebih tegas dalam beberapa tahun terakhir, menantang kepentingan dan nilai-nilai AS di berbagai bidang seperti perdagangan, teknologi, dan hak asasi manusia. Presiden Biden telah mengisyaratkan pendekatan yang lebih konfrontatif terhadap Tiongkok, menekankan perlunya bersaing dengan penuh semangat sambil juga bekerja sama dalam isu-isu yang menjadi kepentingan bersama. Bersama Rusia, Presiden Biden telah mengambil sikap yang lebih keras terhadap isu-isu seperti campur tangan pemilu dan pelanggaran hak asasi manusia, serta berupaya untuk terlibat dalam dialog strategis mengenai pengendalian senjata dan masalah keamanan lainnya. Menyeimbangkan persaingan dan kerja sama dengan kekuatan-kekuatan yang bersaing ini akan menjadi tugas yang sulit bagi pemerintahan Biden, sehingga memerlukan pendekatan yang berbeda dan proaktif untuk melindungi kepentingan dan nilai-nilai AS.
Terlepas dari tantangan-tantangan ini, Presiden Biden juga memiliki sejumlah peluang untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri AS dan mendorong dunia yang lebih stabil dan damai. Salah satu peluang tersebut adalah potensi pembaruan diplomasi dan dialog dengan Iran, setelah AS bergabung kembali dalam perjanjian nuklir. Dengan terlibat dalam negosiasi dengan itikad baik dengan Iran dan aktor regional lainnya, Presiden Biden dapat membantu meredakan ketegangan dan mencegah perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah. Selain itu, pemerintahan Biden mempunyai peluang untuk memimpin isu-isu global seperti perubahan iklim, kesehatan masyarakat, dan hak asasi manusia, dengan bekerja sama dengan mitra-mitra yang berpikiran sama untuk mengatasi tantangan-tantangan mendesak ini dan membangun dunia yang lebih berkelanjutan dan inklusif.
Kesimpulannya, kebijakan luar negeri Presiden Biden menghadapi berbagai tantangan dan peluang ketika ia berupaya memajukan kepentingan dan nilai-nilai AS di panggung global. Dengan membangun kembali aliansi, mengelola persaingan strategis, dan memanfaatkan peluang diplomatik, Presiden Biden dapat membantu membentuk dunia yang lebih stabil, sejahtera, dan damai untuk generasi mendatang. Dengan pengalaman, keahlian, dan komitmennya terhadap multilateralisme, Presiden Biden berpotensi menjadi pemimpin transformatif dalam urusan internasional, mengarahkan Amerika Serikat menuju peran yang lebih positif dan konstruktif di dunia.
